Find the latest bookmaker offers available across all uk gambling sites www.bets.zone Read the reviews and compare sites to quickly discover the perfect account for you.
Home / Artikel / Obrolan di Warung Kopi

Obrolan di Warung Kopi

Desa SELILING || “Koe esih kelingan jamane Pak Harto?PNS pada nggrememeng….pegawai negeri bayarane pira sih?Bisa mangan bae wis sukur” (artinya: Kamu masih ingat jamannya Pak Harto?, PNS selalu mengeluh,….Pegawai Negeri gajinya berapa sih? Bisa makan saja sudah syukur, yang penting dapat pensiun)

Ucapan itu tercetus dari omongan seorang tukang becak yang duduk sebangku dengan saya saat di sebuah warung kopi di stasiun Kebumen. Awalnya sih mereka hanya memperbincangkan sebuah headline di sebuah media massa mengenai rencana pengurangan subsidi bahan bakar minyak/BBM mendatang. Saya merasa duduk dalam sebuah talk show televesi yang berdiskusi mengenai makro ekonomi Indonesia. Jangan dipandang profesi mereka yang duduk di situ atau tingkat pendidikan mereka yang rata-rata tak sampai SMA.

Tukang becak yang dijuluki “Bondet” oleh pemilik warung kopi ini bertutur, jika saat era orde baru kenaikan harga BBM sudah biasa dan bukan barang yang menghebohkan seperti saat ini. Baginya, mengapa saat ini rasanya orang-orang sangat “lebay” menghadapi kenaikan harga BBM. “Nek rika mbien tuku sempak limangewu ulih telu,masa tekan siki regane tetep semono?” tegas Bondet kepada teman seprofesinya, saya dan pemilik warung.(Artinya, jika kamu dahulu membeli celana dalam seharga Rp.5000 dapat 3 potong, apakah sampai saat ini harganya juga segitu?).

Jelas kami tertawa terbahak, ketika Pak Bondet yang jumlah giginya bisa dihitung ini mengeluarkan komentar tersebut. Namun, apa yang dikatakannya pun ditepis oleh pemilik warung. Menurutnya, kondisi ekonomi saat orde baru sangat stabil, meski ada kenaikan namun tak ada orang yang terlihat sangat kaya sekali dan juga tak ada orang yang sangat miskin sekali hingga makan nasi basi (kecuali, orang gila).Saya mengartikan ini adalah disparitas ekonomi saat orde baru sangat baik. Pemerataan pendapatan bukan berarti semua berpendapatan sama, tapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya masing-masing.

“Mulai aku marung nang kene tahun 80, nek ana bensin mundak wis mesthi rega gula,lenga jlantah ya melu mundak regane.tapi aku ra kangelan olehe dodolan,kaya rai mu ya ra nggrememeng Ndet,” kata pemilik warung tersebut. Itu berarti, sejak tahun 1980, meski ada gejolak kenaikan harga BBM yang menyebabkan harga gula naik begitu juga minyak goreng, pemilik warung sama sekali tidak kesulitan menjual karena harga yang dijual ikutan naik, pelanggan seperti Pak Bondet pun tidak menggerutu akibat kenaikan harga tersebut.

Pak Bondet pun bercerita kembali mengenai para aparatur negara. Ia begitu mengelus dada, ketika melihat seorang oknum aparatur negara kerjanya hanya nongkrong di warung ini. Pak Bondet kecewa, ia merasa sudah membayar PBB di tempat tinggalnya, belum lagi retribusi untuk angkutan becaknya yang ia tarik, dan masih banyak pajak yang sama sekali Pak Bondet belum tahu apa fungsinya ia dikenai pajak. “Lha masa aku kudu ngempani pegawai negeri sing ongkang-ongkang sikil nang warung?apa ora kewalik kuwe?? (artinya: Lha masak saya harus memelihara aparat negara yang duduk santai di warung? Apa tidak terbalik?),” tegas Pak Bondet kesal.

Pemilik warung itu mengamini apa pernyataan Pak Bondet ini. Ia pun memberi ide bagaimana jika anggaran rutin untuk membayar aparatur negara dipangkas untuk menutupi subsidi yang ditarik pemerintah tersebut? Saya terhenyak, bagaimana pemilik warung ini bisa berpikir ala ekonom layaknya Anggito Abimanyu? Saya pun bertanya, mengapa ia bisa menjawab seperti itu? Apakah karena sering melihat analisis ekonomi di televisi? Lalu, Pak Bondet pun menjawab, “Lho,sampeyan kie kepriwe mas….senajan marung, anak e ya nang Universitas Indonesia kono?” (lho, bagaimana anda itu mas….meski buka warung , anaknya juga ada di Universitas Indonesia sana?)

“Wah, njiot jurusan ilmu ekonomi ya Pak? (wah, ambil jurusan ekonomi juga Pak?),” tanyaku kepada pemilik warung. Tapi malah Pak Bondet yang menjawab, “Ya pada bae buka warung kopi nang Depok sedurunge dalan nang UI kono (Ya, membuka warung kopi juga di daerah Depok jalanan menuju ke UI),”. Jawaban itu sangat mengesalkan pemilik warung sebenarnya, tapi apa daya bagi dia, memang Pak Bondet orangnya tanpa kompromi jika membuat jokes layaknya stand-up comedy di televisi.

“Biasalah nek cedek kampanye/pemilu biasane kan ana undak-undakan bensin…gemien be kaya kue (biasa, ketika mau kampanye kan biasanya ada kenaikan harga bensin, …dahulu kan begitu juga)” ujar sabar pemilik warung setelah dihina Pak Bondet. Ungkapan bau politis dalam kenaikan harga BBM ini juga disinggungnya. Bagi rakyat kecil seperti pemilik warung ini, pengendalaian harga BBM mungkin nanntinya dijadikan ajang program buat kampanye calon presiden. “Wis lah..sing penting ngesuk ulih kaos,nggo ngapa ngomongi program kampanye.kaya ngerti bae!! (sudahlah, yang penting kan dapat kaos…buat apa ngobrol soal program kampanye…sok tahu kamu)”, bondet pun menyahut perkataan.

Saya pun tak sabar ikut berbicara. Rasanya saya tak mau kalah dengan ekonom-ekonom “banyolan” ini. “Negarane dewek esih akeh sumber produksi minyake.Tapi nengapa regane esih larang..kudune kan murah??Pancen wis wektune subsidi bahan bakar minyak/BBM dikurangi”. (Negara kita masih banyak produksi minyaknya. Tapi kenapa kok harga masih mahal…harusnya kan murah? Memang sudah waktunya subsidi bahan bakar minyak/BBm dikurangi),” kataku tak mau kalah bicara. Memang saudah waktunya menghapus subsidi yang sebagian besar dinikmati pemilik mobil mewah dan orang-kaya.

“Wis-wis…bocah cilik melu-melu bae” (sudah-sudah, anak kecil ikutan saja),” olok Pak Bondet kepadaku. Pikirku, aku masih kecil, tapi aku sudah bisa buat anak kecil lho. “Sing penting ngesuk ulih BLT kaya gemien” (yang terpenting nanti dapat Bantuan Langsung Tunai /BLT seperti dulu),” sambungnya.
Aku langsung menyahut perkataan Pak Bonder< “nek kebijakans kie pemerintah ra arep aweh bantuan langsung tunai/BLT.Soale dana subsidine arep dinggo mbangun insfratruktur dalan lan lia-liane.Kue omonge Menteri Koordinator Ekonomi Hatta Rajasa”.(Artinya “untuk kebijakan pemerintah yang satu ini,pemerintah tidak akan memberikan bantuan langsung tunai/BLT.karena subsidinya akan digunakan untuk membangun insfratruktur jalan dll”) Tak seberapa lama berucap, Pak Bondet bergumam pada kita, “Dadine kepriwe,malah aku ngopeni bojo loro je? (terus bagaimana,saya punya dua istri?,” ucap Pak Bondet yang mebuat sontak kita semua terpingkal.

“Mulane Ndet, wis nganah nggolet penumpang….eling kowe ngopeni bojo loro (Makanya Ndet, segeralah cari penumpang..ingat istrimu ada dua),” kata pemilik warung sambil tertawa. Lalu aku pun terhenyak dari tempat duduk ku dan mengambil dompet untuk membayar semua makan dan minumku. “Nangapa mbiyen mahasiswa pada demo ngganti Pak Harto…marai kisruh bae,(“Kenapa dahulu mahasiswa demonstrasi menggulingkan Pak Harto…membuat kisruh saja),” kata Pak Bondet sambil mendorong becak lalu menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Tentang | kang-ato

kang-ato
niate bali kampung niat mbangun kampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *